Senin, 28 November 2016

Perempuan Lebih Sukses Kelola Waralaba





Perempuan Lebih Sukses Kelola Waralaba



Di Indonesia, modal untuk membeli waralaba lebih kecil dibandingkan di luar negeri, yaitu sekitar Rp 10-400 juta. Uang itu sudah termasuk antara lain initial fee, renovasi, suplai, inventori, deposit biaya sebelum memulai bisnis, dan biaya pelatihan tenaga kerja.

Setelah usaha berjalan, ada pula biaya royalti (royalty fee), yang besarnya 2-15 persen dari penjualan.

Mengapa perempuan lebih sukses berwaralaba dibanding pria? Menurut Fauziah Arsiyanti, advisor lembaga keuangan First Principal Financial Singapura, perempuan "terlahir" ahli bermanajemen, termasuk mengatur pembantu, keluarga, keuangan, dan lainnya. Jadi, saat terjun ke bisnis, dia juga ahli. Selain itu, dia punya insting bagus. "Cenderung hati-hati mengambil langkah dan patuh peraturan," ujarnya.
Jika Anda seorang perempuan, tampaknya waralaba cocok sebagai bisnis Anda. Berani mencoba? (sumber)


Baca Tips Wirausaha Lainnya di Ayopreneur.com

Kamis, 24 November 2016

Kelebihan dan Kekurangan Bisnis Rumahan

Kelebihan dan Kekurangan Bisnis Rumahan




Kini, membuat bisnis berskala rumahan tengah digandrungi para ibu rumah tangga atau ditekuni sejumlah pekerja kantoran sebagai kerja sampingan. Lihat saja, berapa banyak teman yang saat ini mulai merintis usaha rumahan. Atau malah Anda sendiri sudah memilikinya? Jika belum punya, ada baiknya menyimak dulu kekurangan dan kelebihan usaha:

1. Perlu tenaga ekstra untuk memperkenalkan dan memasarkan produk barang atau jasa Anda. Juga butuh kesabaran tinggi untuk menghadapai berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

2. Menumbuhkan kreativitas dan semangat kompetitif karena harus bersaing dengan usaha sejenis yang sudah ada terlebih dahulu di pasar.

3. Memiliki kepuasan tersendiri, meski terkadang usaha yang dipilih tidak berjalan sesuai rencana. Sebab, usaha rumahan tak selalu mendatangkan untung secara finansial tapi juga memberikan wadah sebagai ajang aktualisasi diri.

4. Memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga karena dapat dijalankan di tempat dengan waktu yang sangat fleksibel. Terlebih jika cara penjualannya memanfaatkan internet seperti blog atau situs jejaring sosial.

5. Menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi orang lain.

6. Menambah pemasukan keluarga. Bila usaha ini sukses, tidak menutup kemungkinan suatu saat usaha Anda bisa menjadi sumber pemasukan utama. (sumber)


Baca Tips Wirausahawan Lainnya

Senin, 21 November 2016

Membangun Makna dalam Bisnis Ala Guy Kawasaki

Membangun Makna dalam Bisnis Ala Guy Kawasaki



Sebagian besar entrepreneur baru termasuk mungkin sebagian dari kita memulai usaha dengan semangat membara untuk sebanyak mungkin meraup rupiah, membukukan sebanyak-banyaknya keuntungan dan berekspansi dengan agresif. Namun, pernahkah kita bertanya apakah inti dari entrepreneurship itu?

Guy Kawasaki dalam paparan singkatnya menyatakan dengan lugas bahwa inti dari entrepreneurship itu bukanlah semata-mata semangat mencari keuntungan materi. Berikut kutipan dari Guy Kawasaki yang patut dicamkan bagi kita semua yang hendak mendirikan usaha:

“If you make meaning, you PROBABLY make money. But if you set out to make money, you WON’T probably make meaning and you WON’T make money.”

Dengan kata lain jika kita berusaha untuk membangun makna melalui usaha kita, ada kemungkinan kita bisa meraup untung. Sebaliknya bila kita terlalu fokus pada tujuan meraup untung, maka kita  harus menghadapi 2 risiko sekaligus sepanjang mengelola usaha: tidak bisa membangun makna dan tidak bisa meraup untung.

Membangun makna dalam hal ini ialah memiliki misi untuk menjadikan dunia menjadi lebih baik. Misi ini tentunya lebih dalam dan jauh daripada hanya sekedar mencetak untung. Berikut ini merupakan tiga cara yang menurut Guy Kawasaki bisa ditempuh untuk membangun makna dalam entrepreneurship:

1. Tingkatkan kualitas kehidupan
Sebuah usaha yang memiliki kualitas kehidupan akan cenderung bisa bertahan dan berkembang daripada sebuah usaha yang hanya sekadar berorientasi profit.

2. Luruskan yang bengkok
Anda dapat memulai sebuah usaha dengan tujuan untuk membenarkan apa yang belum benar. Misalnya, kurang menggembirakannya minat baca di masyarakat bisa kita gunakan sebagai celah bisnis dengan menjual buku-buku bekas yang terjangkau.

3. Mencegah sesuatu yang baik dari kemusnahan

Saat Anda memulai sebuah usaha, temukan sesuatu yang baik namun terancam keberlangsungannya  dalam waktu  dekat. Misalnya menjaga ketersediaan lahan hijau di sekitar tempat tinggal Anda dengan membuka sebuah usaha pembibitan dan pembuatan taman dengan konsep yang unik dan berbeda.

Nah, jika Anda ingin membuka sebuah bisnis, saatnya Anda membangun pondasi yang kokoh bagi bisnis Anda di masa datang. Dan bagi Anda yang sudah memiliki bisnis, saatnya menggunakan saran Guy Kawasaki di atas untuk mengevaluasi arah usaha Anda. (sumber)


Baca Tips Wirausahawan Lainnya di Ayopreneur

Kamis, 17 November 2016

Modal Bukan Syarat Utama

Modal Bukan Syarat Utama




Ternyata untuk membangun bisnis, modal besar bukanlah syarat utama. Sekarang ini selain duit, yang dibutuhkan adalah kreativitas.

Kreativitas dalam mengembangkan ide, skill dan komitmen yang baik merupakan tiga hal pendukung utama dalam meraih kesuksesan bisnis. Apabila ketiga faktor pendukung tersebut dimiliki oleh seseorang, modal akan datang sendiri.

Mengapa modal tidak terlalu penting? Taruhlah seseorang tidak memiliki skill, kreativitas dan komitmen sebesar apapun modal yang dimiliki dapat dipastikan usahanya tidak akan bertahan lama.


Baca Tips Wirausahawan Lainnya

Sebut saja Warren Buffet, Bill Gates, dan beberapa nama tenar lainnya. Mereka sukses dengan ketiga komponen yang dimiliki yang akhirnya membawa usaha yang dirintisnya menjadi berhasil.

Selain itu, pebisnis sejati harus berani mengambil risiko, memiliki perhitungan yang matang, disiplin, ulet dan tekun, mampu bersosialisasi dengan baik kepada lingkungan serta harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sekadar tambahan risiko yang disebutkan bukan berarti berani menabrak semua tantangan yang ada. Seorang pebisnis harus mampu mengukur tingkat risiko yang dapat dihadapinya. (sumber)

Rabu, 16 November 2016

Tips Sukses Berbisnis Ala Deborah Shane

Tips Sukses Berbisnis Ala Deborah Shane




Ingin memiliki bisnis sendiri tapi Anda takut karena tidak punya pengalaman. Jangan khawatir. Anda tidak perlu minder untuk melakukannya. Dalam jurnalnya yang berjudul "Woman in Business," Deborah Shane, motivator dan pakar karier asal Amerika, memberikan kiat sukses berbisnis. Berikut kiat sukses dari Deborah:

1. Tentukan MinatJika Anda telah siap untuk memasuki dunia bisnis, pilihlah usaha bisnis yang paling Anda minati. Entah dalam bidang kuliner, fashion, atau jasa. Ukur kemampuan dan pengetahuan untuk mengelolanya. Anda harus mengerti bidang bisnis yang akan dijalankan.

2. Mulailah MelangkahJika sudah memiliki pilihan, bersiaplah melangkah. Anda bisa mengajak rekan yang terpercaya untuk bergabung. Deborah menekankan, modal bukan hambatan. Bisnis selalu memberi peluang dan solusi.

3. BergairahGairah untuk melakukan usaha merupakan hal penting dan harus selalu dijaga. Bisnis yang sukses tidak mengenal mood.

4. Pelajari PasarLakukan riset tentang kompetitor bisnis Anda, baik dalam hal promosi atau harga. Jika Anda bermain dalam bisnis kuliner, cobalah untuk membandingkan rasa dan harga. Kemudian tanyakan pendapat konsumen tentang produk yang Anda jual, apakah mereka puas atau tidak.

5. Jaring PelangganPelajarilah perilaku konsumen dan lakukan pemasaran. Jangan ragu untuk memberikan promosi sebagai langkah pengenalan, seperti diskon setengah harga. Pelanggan merupakan unsur yang sangat penting dalam bisnis, jangan hubungan baik dan puaskan mereka.

6. Ikuti AturanBisnis mengenal banyak aturan. Pertama, selesaikan perizinan usaha yang ditetapkan pemerintah. Kedua, buatlah aturan pribadi tentang usaha yang dijalankan, seperti jam operasional hingga pengelolaan anggaran.

7. InovasiTak ada pendapatan tetap dalam bisnis. Jika memang bisnis Anda kurang berkembang, lakukan inovasi dengan segera, baik dalam segi produk atau pemasaran. Jangan buang waktu percuma untuk meratapi kegagalan.

8. Buat Rekening BisnisBedakan antara uang pribadi dengan keuntungan bisnis. Gunakan 70 persen keuntungan untuk ditabung. Sisanya bisa Anda gunakan untuk kepentingan pribadi.

9. Belajar dan BelajarCarilah ilmu sebanyak mungkin, dari buku, internet, atau berkomunikasi langsung dengan mereka yang berhasil menjalani bisnis.

10. Tekun

Tak selamanya bisnis berjalan lancar. Kegagalan itu merupakan hal yang biasa, jadikan sebagai pelajaran, bukan akhir dari perjalanan bisnis Anda. Jika Anda mengamati kisah di balik orang-orang sukses, pasti akan menemukan kuncinya, ketekunan. (sumber)


Baca Tips Wirausahawan Lainnya di Ayopreneur

Selasa, 15 November 2016

Meluncurkan Ide ke Publik dengan Aman

Meluncurkan Ide ke Publik dengan Aman



Awalnya ide memberikan izin agar gambar karakter kartun Mickey Mouse yang diciptakan Walt Disney terdengar tidak mungkin. Tetapi Walt Disney yang di tahun 1930 terus dibujuk oleh seorang penjual mainan yang hendak menjual kotak pensil bergambar Mickey Mouse akhirnya terdorong untuk menelusuri potensi perjanjian yang sekarang terkenal dengan istilah lisensi. Setelah menyadari potensi keuntungan dari perjanjian lisensi, Disney menyewa seorang pengusaha mainan bernama Herman Kamen untuk mempromosikan dan mengatur semua perjanjian lisensi Walt Disney dengan pihak ketiga.

Pelajaran berharga dari pengalaman Walt Disney di atas mencerminkan bagaimana seorang entrepreneur harus secara cerdas mengelola apa yang menjadi asetnya, yaitu ide dan kreativitas. Mempublikasikan gagasan tanpa harus kehilangan kendali atas gagasan tersebut merupakan sebuah dilema tersendiri bagi seorang entrepreneur yang memiliki ide kreatif. Ia harus melewati beragam rintangan di masyarakat dan membutuhkan bantuan orang lain agar gagasan itu bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Dan hal itu juga berarti meningkatkan risiko terhadap paparan bahaya yang lain: pencurian ide.

Jalan yang paling praktis tentu saja dengan menjual ide Anda. Anda hanya cukup tandatangani sebuah perjanjian penyerahan (assignment agreement) yang intinya Anda secara resmi menurut aturan yang berlaku telah memindahkan hak-hak Anda sebagai pemilik ide ke pihak lain. Ini setali tiga uang dengan penjualan hak kekayaan intelektual yang Anda kantongi.

Berikut adalah beberapa jalan hukum yang dapat Anda tempuh untuk memasarkan ide tanpa harus kehilangan kendali atasnya:
* Perjanjian penyerahan (assignment agreements)
Anda dapat menyerahkan semua hak atas ide Anda.

* Perjanjian lisensi (licensing agreements)
Dalam sebuah perjanjian lisensi, hak-hak seorang pemilik ide tidak akan sepenuhnya hilang seperti yang terjadi pada perjanjian penyerahan.

* Perjanjian manufaktur (manufacturing agreements)
Bagi pengusaha yang tidak memiliki pabrik sendiri, hal ini dipandang perlu. Karena bagaimana pun juga pihak pemilik pabrik di mana produk Anda diolah mengetahui secara detil tentang seluk beluk  pembuatan produk tersebut. Ini bisa berpotensi bocornya rahasia dagang dan persaingan yang tidak sehat.

* Usaha patungan (joint ventures) dan perjanjian campuran lainnya (hybrid agreements)
Usaha patungan ialah suatu usaha gabungan, kolaborasi antara dua perusahaan atau lebih. Usaha patungan dapat berupa sebuah satuan usaha tersendiri, yang terpisah dari perusahaan-perusahaan penyusunnya. Terdapat tumpang tindih jenis perjanjian yang diberikan dalam sebuah usaha patungan. Beberapa bahkan tidak termasuk dalam jenis perjanjian manapun. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan kerjasama yang bervariasi.

* Perlindungan dari tindak pencurian terhadap ide yang diajukan

Jika tidak ada perjanjian tertulis yang menyatakan perlindungan terhadap karya Anda, dapat disimpulkan karya Anda tidak terlindungi dan hak-hak Anda terampas. Tidak ada cara lain, selain menuntut sebuah perjanjian tertulis yang sah secara hukum dan secara proaktif mengawasi penggunaan tanpa ijin dari ide yang Anda ajukan. Hal serupa umumnya menimpa para penulis skenario. Mereka mengajukan naskah film dan tidak diterima oleh pihak rumah produksi. Namun, beberapa saat setelah itu muncul sebuah film yang menyerupai idenya. Karena tidak ada perjanjian tertulis tentang bagi keuntungan jika suatu saat ide tersebut digunakan, penuntutan hak di mata hukum menjadi lebih rumit. Untuk mencegah hal itu terjadi, sebelum Anda mengajukan ide kepada pihak lain, tidak ada ruginya Anda meminta sebuah perjanjian tertulis yang resmi bahwa Anda akan ikut mendapatkan pembagian keuntungan jika ide Anda digunakan.

* Perjanjian kerahasiaan pihak ketiga
Kebutuhan akan kerahasiaan pada dasarnya berbenturan dengan kepentingan pemasaran. Untuk memasarkan ide atau produk Anda, Anda perlu memberitahu pihak ketiga untuk itu. Jika dipandang perlu, Anda dapat meminta pihak ketiga untuk menandatangani sebuah perjanjian kerahasiaan.

Itulah langkah-langkah yang dapat Anda tempuh demi mendapatkan sebuah perlindungan terhadap ide yang telah susah payah Anda rancang. Untuk langkah selanjutnya, akan lebih baik jika Anda mendapatkan masukan dan dukungan dari seorang penasihat hukum profesional yang mengerti tentang ranah hukum privat di tanah air. (sumber)


Baca Tips Wirausaha Lainnya di Ayopreneur